Jelang Pilrek UNSYIAH, Mahasiswa Usulkan Tes Baca Qur’an

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga besar Mahasiswa UNSYIAH, menggelar aksi ujuk rasa pada rabu 24/2 di Biro Rektorat Unsyiah. Aksi tersebut dimulai pukul 08.00 WIB hingga menjelang siang. Keinginan mahasiswa untuk bertemu pihak senat belum juga berhasil. Beberapa saat mahasiswa beranjak dari gedung rektorat untuk shalat dzuhur dan makan siang.

Sesaat kemudian, mahasiswa kembali ke gedung rektorat mencoba menjumpai anggota senat yang saat itu memang sedang berada dalam gedung rektorat. Namun, Lagi-lagi niat mahasiswa tersebut diabaikan oleh pihak senat yang berada di lantai dua gedung tersebut.

Mendapat perlakuan tersebut, mahasiswa nekat memasuki gedung rektorat menuju ke ruang senat yang dijaga oleh aparat keamanan kampus, mereka menuju ke ruang PR I. Disana tampak PR I sedang duduk di kursi tamu dan mambaca koran.

Menanggapi kedatangan  mahasiswa diruangannya, PR I menanyakan keinginan mahasiswa melakukan aksi tersebut. Dan kemudian turun ke lantai satu gedung rektorat untuk berdialog dengan mahasiswa.

Dalam aksi ini para demonstran yang menamai dirinya sebagai KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) UNSYIAH meminta senat Unsyiah sebagai otoritas dalam penentuan kriteria seorang calon rektor mamasukkan 6 kriteria calon rektor Unsyiah Ke depan. Keenam kriteria tersebut adalah mampu membaca Al Quran, bebas money politics, bebas tindakan asusila, mencintai mahasiswa dan dicintai mahasiswa.

Dalam dialog tersebut, PR I yang juga didampingi PR III mengatakan, kriteria-kriteria yang diusulkan oleh mahasiswa memang diterapkan dalam proses pencalonan Pemilihan Rektor baru UNSYIAH, namun pada syarat tersebut sudah dimasukkan dalam kriteria yang sudah ada yaitu Bertakwa Kepada tuhan yang maha ESA.

Sempat terjadi perdebatan yang sangat alot dengan Pembantu Rektor,  yang saat itu menjumpai mahasiswa ketika mahasiswa kurang sepakat jika syarat tersebut dimasukkan ke dalam item bertakwa kepada tuhan yang maha ESA.

Salah satu orator aksi tersebut mengatakan, sangat disayangkan tindakan pihak senat yang tidak memasukkan mampu membaca al quran sebagai salah satu syarat calon seorang rektor. “ Hari ini kita melihat hampir semua pimpinan daerah baik itu pemilihan eksekutif dan legislatif  melakukan tes baca Al-Qur an untuk menjadi seorang calon untuk maju pada pemilihan rakyat. Seharusnya pihak Kampus juga harus memberikan teladan dan juga ikut serta dalam menjalankan syariat Islam.

Menjelang shalat ashar mahasiswa membubarkan diri dari gedung rektorat melaksanakan shalat ashar di mesjid, dan berjanji akan melakukan aksi dengan massa yang lebih besar lagi jika usul mahasiswa terkait tes baca Quran tidak dilakukan. (Rdh)