Status

Pelataran Gelanggang Mahasiswa Unsyiah dalam tepukan tangan setan, iblis dan sejenisnya. Dalam kebiadaban yang membabi buta, dalam keherananku menyaksikan ritual sakral itu, dalam kegamanganku untuk berada di sana, di antara "surga" dan "neraka".

Entah apa yang mereka cari,,, ntah hak apa yang mereka tuntut,,, ntah pikiran dari mana sehingga mereka menganggap bahwa mereka dianak tirikan,, ntah iblis macam apa yang merasuki tubuh-tubuh mereka,, ntah dari mana "ide" itu muncul,,

Selengkapnya...

Beragam versi berita terkait bentrokan mahasiswa Unsyiah dimuat di media cetak maupun elektronik hari ini Sabtu, 15 Mei 2010. Beragam tanggapan pun berkembang di masyarakat. Tanpa dasar maksud berpihak ke salah satu pihak mahasiswa yang terlibat bentrokan, berikut kami sedikit mengulas realita kronologis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Majelis Permusyawaratan Mahasiswa sedang menggelar Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Mahasisiwa (MPM) pada hari Kamis, 13/05/10 di ruang Flamboyan AAC Dayan Dawood untuk membahas konstitusi mahasiswa Unsyiah yang akan dijadikan panduan organisasi kemahasiswaan satu tahu ke depan. Sidang Umum tersebut diikuti oleh perwakilan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas(DPMF) dan Dewan perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU). Sesaat ketika sidang dimulai, segerombolan mahasiswa tak dikenal mendekati ruang sidang tanpa ada maksud yang jelas. Tiba- tiba salah satu diantara gerombolan mencoba masuk kedalam ruangan dengan alasan ingin melihat jalannya persidangan tanpa mengindahkan ketentuan yang tidak membolehkan masuk ke ruang sidang selain peserta sidang yang sah sesuai dengan konstitusi. Tindakan tersebut menyebabkan panitia turun tangan dengan mneyampaikan secara baik- baik kepada mahasiswaa tersebut. Akan tetapi tidak digubris sama sekali oleh kawanan mahasiswa yang berjumlah sekitar duapuluh orang tersebut mdan mendesak untuk masuk. Sehingga menyebabkan panita mengambil tindakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Akibatnya terjadi gesekan fisik antara panitia dan kawanan mahasiswa.
Situasi yang tidak kondusif itu secepatnya diberitahukan kepada PR III agar memediasi kesalahpahaman tersebut. Kahirnya PR III datang dengan staf biro kemahasiswaa untuk memenangkan suasana. Setelah sempat terjadi gesekan fisik, akhirnya kedua belah pihak bersedia untuk turun dan meninggalkan lokasi. Setelah shalat Jumat tepatnya sekitar jam 14.00 seratusan mahasiswa berkumpul di UKM Leuser dan pelataran Gelanggang Mahasiswa. Tiba- tiba mereka menyerang kantor PEMA Unsyiah yang terletak tidak jauh dari lokasi tempat berkerumunnya mahasiswa. Mereka mengobrak –abrik isi kantor PEMA Unsyiah dan mencari para staf laki-laki yang ada. Pada saat itu yang ada di dalam ruang kantor adalah para mahasiswi yang sedang menggelar kajian muslimah. Tiba- tiba mereka masuk tanpa salam langsung menerobos dan memecahkan kaca pintu Pema, kepala seorang mahasiswi, Cut Sheira Elnita (FK 2006) memar karena hantaman kayu yang terlalu kuat saat pemecahan kaca pintu. Sementara satu mahasiswi lainnya Revina (FK 2009) dikejar-kejar oleh massa hingga melarikan diri sekretariat Fosma. Mereka juga hampir menyekap seorang mahasiswi bernama Carrel Umami (psikologi FK 2008) dan beberapa mahasiswi lainnya shock dan sesak karena ketakutan saat gerombolan mengacak-acak seluruh ruangan. Sehingga menimbulkan ketakutan pada mahasiswi-mahasiswi tersebut.
Aksi yang berlangsung cepat tersebut sempat direkam oleh seorang staf PEMA Unsyiah. Setelah mengetahui tidak ada satupun anggota pema yang laki- laki berada ditempat mereka menuju mushalla KID di samping Bank BNI 46 Darussalam. Di sana ada sekitar 30 anggota Pema Unsyiah dan mahasiswa umum lainnya dari berbagai fakultas sepulang dari shalat Jumat. Melihat gelagat yang mencurigakan dan sebelumnya mendapat informasi akan ada penyerangan maka pengurus PEMA Unsyiah dalam kondisi waspada. Menyadari kekuatan penyerang berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka maka pengurus Pema Unsyiah tersebut mengambil kayu dan batu sebagai pelindung. Aksi lempar batu mewarnai aksi dua kubu mahasiswa yang sedang berselish paham. Akhirnya pengurus PEMA Unsyiah terus mengejar penyerang ke Gelanggang Mahasiswa. Akhirnya datang PR III dan kapolsek Syiah Kuala untuk mengamanakan bentrokan dua kubu mahasiswa itu. Akhirnya , walaupun diselimuti ketegangan masing- masing pihak bersedia untuk membubarkan diri dan akan diselesaikan secara baik- baik dan PR III mengambil alih kejadian ini dan tidak dilakukan penindakan hokum. Atas kejadian tersebut malam harinya Gelanggang Mahasiswa Unsyiah dikosongkan demi keamanan. Sampai saat ini belum ada langkah konkrit yang dilakuka oleh PR III untuk menyelesaikan kejadian tersebut. Dan perlu diketahui bahwa pelaku penyerangan terhadap PEMA Unsyiah juga melibatkan mahasiswa luar Unsyiah.

Kesaksian beberapa aktivis perempuan PEMA Unsyiah yang berada didalam ruangan kewanitaan PEMA ketika terjadi penyerangan

14 Mei 2010, 15.00 WIB ,segerombolan cowok macho menyerang PEMA Unsyiah

Ternyata di sekretariat PEMA hanya ada beberapa orang aktifis wanita

Hal yang mencoreng nama baik mahasiswa itu-pun terjadi.

Apakah alasan “Kecewa terhadap Sidang Umum” bisa menghapus aib ini?

BRAK!! Mata kami saling berpandangan, saya dan beberapa teman yang sedang menyantap nasi bungkus  terdiam sesaat. Firasat buruk menghampiri. Ya, sedetik kemudian,” mana yang cowok-cowoknya?keluar kalian! Teriak seorang pria diikuti beberapa temannya meneriakkan hal yang serupa, bak tentara yang merazia dimasa aceh konflik dulu. Sejurus kemudian kursi –kursi yang tersusun rapi keatas (biasanya kami gunakan untuk kegiatan focus grup discussion) dijatuhkan oleh mereka, loker-loker yang awalnya tersusun rapi juga dijatuhkan mereka hingga kertas-kertas, surat-surat, data-data yang kami simpan untuk kelancaran setiap kegiatan yang kami adakan berhamburan kelantai.

Pintu ruang presiden tempat lahirnya ide brilian juga kena malangnya, hancur berantakan. Teman saya, seorang aktivis wanita, Sheira , yang memang berjiwa pemberani (menurut saya), menghampiri mereka, mencoba menjelaskan bahwa di dalam pema saat ini yang ada hanyalah perempuan saja, “Cowoknya g ada disini, yang ada cuma ceweknya”, mencoba menjelaskan kepada para penyerang yang lagi berang.

Penjelasan teman saya  tidak digubris oleh mereka. Terus saja menghancurkan tanpa menghiraukan yang lain. Bahkan ada teman saya yang hampir kena imbas emosi tak terkontrol mereka ketika berusaha mencegah perbuatan merusakkan inventaris pema tersebut. Kami yang didalam ruangan terkena serpihan kaca dan ada juga yang dipukul (secara tidak sengaja) dengan kayu.

Setelah berpuas diri menghancurkan, merasa tidak menemukan yang dicari, barulah mereka berhenti, meminta maaf kepada kami dan berniat membereskan apa yang mereka lakukan tadi,dengan mudah berkata khilaf, yang mereka sendiri entah sadar entah tidak,ketika bisikan syaitan dituruti maka hanya kerugian lah yang di dapat.

Spontan adik leting saya dalam keadaan menahan tangis berteriak, “pergi kalian! Beraninya Cuma sama perempuan!”, dan langsung menutup pintu. Ketika kami melihat keadaan diluar, terkejut hati melihat sekitar ratusan orang telah berkumpul,rata-rata memegang balok. Spontan kami menghubungi kawan-kawan lain, terutama pengurus cowok.

Harapan kami dapat mencegah mereka datang ke pema, karena pikir kami pun, lawan tidak lah seimbang, kami anak pema hanyalah sekitar 30an orang, sedangkan mereka ratusan orang. Belum lagi pertimbangan melawan atau menahan diri.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari daerah gedung AAC Dayan Dawood ada sekitar 30 orang berlari terburu-buru dan penuh emosi menuju depan pagar gelanggang, beberapa orang merusak pelindung pohon yang sedang tumbuh disitu, menghancurkannya menjadi kayu sepanjang lengan orang dewasa, dan berjalan mengikuti kawannya ke arah fakultas teknik. Ketika itu, gerombolan yang tadi berkumpul didepan kantor pema tidak tahu lagi kemana, saya tidak sempat melihat mereka. Dan saat itu, saya menggunakan kesempatan mengajak beberapa teman yang ada disamping untuk segera pergi dari tempat ini saat itu juga.

Namun apa hendak dikata, sedetik kemudian, dengan sangat tiba-tiba, gerombolan yang tadi,bukan 60an orang, bukan juga 30an orang, tapi lebih banyak dari itu, berlari dengan cepat, langsung berbelok ke arah kantor pema. Spontan kami perempuan yang tenyata saya tau bukan hanya 7 tapi 12 orang , berlari ke pema, masing-masing dari kami berteriak, “ cepat masuk ke pema!”.

Saya yang posisinya saat itu di pintu sempat melihat bagaimana teman-teman perempuan saya berusaha menyelamatkan diri dari tsunami yang berwujud manusia itu. Ketika pintu akan ditutup, apalah arti kekuatan kaum hawa dibanding kaum adam yang seyogyanya dipercaya memimpin malah berbuat yang tidak selayaknya sebagai pemimpin. Mereka masuk menghancurkan apa yang telah hancur, lebih membabi buta, menghancurkan piala-piala, menghancurkan pintu kaca, jendela, meja, komputer juga jadi sasaran. Kami, perempuan-perempuan yang menyaksikannya, hanya melihatnya dengan miris, ada juga yang menangis.

Terkoordinir dengan rapi. Andai mereka lahir di hongkong, mungkin akan menjadi mafia yang top markotop. Saya tidak tahu bagaimana nasib teman-teman saya yang tadi berusaha menahan pintu, saya tidak tahu bagaimana nasib teman-teman saya yang tidak sempat masuk ke pema. Terpaku, terdiam, tidak bisa bergerak, hanya bisa beristigfar melihat tingkah mereka menghancurkan yang telah hancur. Beberapa saat kemudian, ruangan itu hening, merasa sudah aman, saya keluar dari ruang perempuan, saya lihat ternyata teman-teman saya yang lain juga bernasib sama. Diam terpaku di tempatnya masing-masing. Beberapa diantara mereka akhirnya menangis. Kemudian, kami meninggalkan pema untuk menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi. Wallahu’alam.

Kesaksian beberapa aktivis perempuan PEMA Unsyiah yang berada didalam ruangan kewanitaan PEMA ketika terjadi penyerangan

14 Mei 2010, 15.00 WIB ,segerombolan cowok macho menyerang PEMA Unsyiah

Ternyata di sekretariat PEMA hanya ada beberapa orang aktifis wanita

Hal yang mencoreng nama baik mahasiswa itu-pun terjadi.

Apakah alasan “Kecewa terhadap Sidang Umum” bisa menghapus aib ini?

BRAK!! Mata kami saling berpandangan, saya dan beberapa teman yang sedang menyantap nasi bungkus  terdiam sesaat. Firasat buruk menghampiri. Ya, sedetik kemudian,” mana yang cowok-cowoknya?keluar kalian! Teriak seorang pria diikuti beberapa temannya meneriakkan hal yang serupa, bak tentara yang merazia dimasa aceh konflik dulu. Sejurus kemudian kursi –kursi yang tersusun rapi keatas (biasanya kami gunakan untuk kegiatan focus grup discussion) dijatuhkan oleh mereka, loker-loker yang awalnya tersusun rapi juga dijatuhkan mereka hingga kertas-kertas, surat-surat, data-data yang kami simpan untuk kelancaran setiap kegiatan yang kami adakan berhamburan kelantai.

Pintu ruang presiden tempat lahirnya ide brilian juga kena malangnya, hancur berantakan. Teman saya, seorang aktivis wanita, Sheira , yang memang berjiwa pemberani (menurut saya), menghampiri mereka, mencoba menjelaskan bahwa di dalam pema saat ini yang ada hanyalah perempuan saja, “Cowoknya g ada disini, yang ada cuma ceweknya”, mencoba menjelaskan kepada para penyerang yang lagi berang.

Penjelasan teman saya  tidak digubris oleh mereka. Terus saja menghancurkan tanpa menghiraukan yang lain. Bahkan ada teman saya yang hampir kena imbas emosi tak terkontrol mereka ketika berusaha mencegah perbuatan merusakkan inventaris pema tersebut. Kami yang didalam ruangan terkena serpihan kaca dan ada juga yang dipukul (secara tidak sengaja) dengan kayu.

Setelah berpuas diri menghancurkan, merasa tidak menemukan yang dicari, barulah mereka berhenti, meminta maaf kepada kami dan berniat membereskan apa yang mereka lakukan tadi,dengan mudah berkata khilaf, yang mereka sendiri entah sadar entah tidak,ketika bisikan syaitan dituruti maka hanya kerugian lah yang di dapat.

Spontan adik leting saya dalam keadaan menahan tangis berteriak, “pergi kalian! Beraninya Cuma sama perempuan!”, dan langsung menutup pintu. Ketika kami melihat keadaan diluar, terkejut hati melihat sekitar ratusan orang telah berkumpul,rata-rata memegang balok. Spontan kami menghubungi kawan-kawan lain, terutama pengurus cowok.

Harapan kami dapat mencegah mereka datang ke pema, karena pikir kami pun, lawan tidak lah seimbang, kami anak pema hanyalah sekitar 30an orang, sedangkan mereka ratusan orang. Belum lagi pertimbangan melawan atau menahan diri.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari daerah gedung AAC Dayan Dawood ada sekitar 30 orang berlari terburu-buru dan penuh emosi menuju depan pagar gelanggang, beberapa orang merusak pelindung pohon yang sedang tumbuh disitu, menghancurkannya menjadi kayu sepanjang lengan orang dewasa, dan berjalan mengikuti kawannya ke arah fakultas teknik. Ketika itu, gerombolan yang tadi berkumpul didepan kantor pema tidak tahu lagi kemana, saya tidak sempat melihat mereka. Dan saat itu, saya menggunakan kesempatan mengajak beberapa teman yang ada disamping untuk segera pergi dari tempat ini saat itu juga.

Namun apa hendak dikata, sedetik kemudian, dengan sangat tiba-tiba, gerombolan yang tadi,bukan 60an orang, bukan juga 30an orang, tapi lebih banyak dari itu, berlari dengan cepat, langsung berbelok ke arah kantor pema. Spontan kami perempuan yang tenyata saya tau bukan hanya 7 tapi 12 orang , berlari ke pema, masing-masing dari kami berteriak, “ cepat masuk ke pema!”.

Saya yang posisinya saat itu di pintu sempat melihat bagaimana teman-teman perempuan saya berusaha menyelamatkan diri dari tsunami yang berwujud manusia itu. Ketika pintu akan ditutup, apalah arti kekuatan kaum hawa dibanding kaum adam yang seyogyanya dipercaya memimpin malah berbuat yang tidak selayaknya sebagai pemimpin. Mereka masuk menghancurkan apa yang telah hancur, lebih membabi buta, menghancurkan piala-piala, menghancurkan pintu kaca, jendela, meja, komputer juga jadi sasaran. Kami, perempuan-perempuan yang menyaksikannya, hanya melihatnya dengan miris, ada juga yang menangis.

Terkoordinir dengan rapi. Andai mereka lahir di hongkong, mungkin akan menjadi mafia yang top markotop. Saya tidak tahu bagaimana nasib teman-teman saya yang tadi berusaha menahan pintu, saya tidak tahu bagaimana nasib teman-teman saya yang tidak sempat masuk ke pema. Terpaku, terdiam, tidak bisa bergerak, hanya bisa beristigfar melihat tingkah mereka menghancurkan yang telah hancur. Beberapa saat kemudian, ruangan itu hening, merasa sudah aman, saya keluar dari ruang perempuan, saya lihat ternyata teman-teman saya yang lain juga bernasib sama. Diam terpaku di tempatnya masing-masing. Beberapa diantara mereka akhirnya menangis. Kemudian, kami meninggalkan pema untuk menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi. Wallahu’alam.

Survey pemilihan rektor yang dibuat oleh pema unsyiah adalah bagian dari buah pemikiran kawan kawan di pemerintah mahasiswa  unsyiah umumnya, dan departemen kesma khususnya sehingga buah pikir tersebut dicantumkan dalam salah satu program departemen, polling ini bertujuan untuk menjaring informasi dari segenap mahasiswa dan civitas akademik kampus jantong hate ureung atjeh, hal ini penting kita lakukan mengingat pemilihan rektor yang hanya diikuti secara langsung oleh anggota senat. Mudah mudahan dengan polling ini bisa menjadi sebuah jawaban dari pentanyaan yang terbendung dalam benak kita selama ini, walaupun jawaban tersebut belum tentu pasti, apapun hasil poling nantinya itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap keputusan yang diambil oleh anggota senat.

Selengkapnya...

Selamat Datang... ......di PEMA Unsyiah ...................

Foto Terbaru

Unable to read/write the source directory (/home/unsyiah/public_html/pema/images/yootheme/yoogallery/), please verify the directory permissions (Go to: Fix permissions tutorial)