Ditulis oleh Anna Fauza
|
15 May 2010
Kesaksian beberapa aktivis perempuan PEMA Unsyiah yang berada didalam ruangan kewanitaan PEMA ketika terjadi penyerangan
14 Mei 2010, 15.00 WIB ,segerombolan cowok macho menyerang PEMA Unsyiah
Ternyata di sekretariat PEMA hanya ada beberapa orang aktifis wanita
Hal yang mencoreng nama baik mahasiswa itu-pun terjadi.
Apakah alasan “Kecewa terhadap Sidang Umum” bisa menghapus aib ini?
BRAK!! Mata kami saling berpandangan, saya dan beberapa teman yang sedang menyantap nasi bungkus terdiam sesaat. Firasat buruk menghampiri. Ya, sedetik kemudian,” mana yang cowok-cowoknya?keluar kalian! Teriak seorang pria diikuti beberapa temannya meneriakkan hal yang serupa, bak tentara yang merazia dimasa aceh konflik dulu. Sejurus kemudian kursi –kursi yang tersusun rapi keatas (biasanya kami gunakan untuk kegiatan focus grup discussion) dijatuhkan oleh mereka, loker-loker yang awalnya tersusun rapi juga dijatuhkan mereka hingga kertas-kertas, surat-surat, data-data yang kami simpan untuk kelancaran setiap kegiatan yang kami adakan berhamburan kelantai.
Pintu ruang presiden tempat lahirnya ide brilian juga kena malangnya, hancur berantakan. Teman saya, seorang aktivis wanita, Sheira , yang memang berjiwa pemberani (menurut saya), menghampiri mereka, mencoba menjelaskan bahwa di dalam pema saat ini yang ada hanyalah perempuan saja, “Cowoknya g ada disini, yang ada cuma ceweknya”, mencoba menjelaskan kepada para penyerang yang lagi berang.
Penjelasan teman saya tidak digubris oleh mereka. Terus saja menghancurkan tanpa menghiraukan yang lain. Bahkan ada teman saya yang hampir kena imbas emosi tak terkontrol mereka ketika berusaha mencegah perbuatan merusakkan inventaris pema tersebut. Kami yang didalam ruangan terkena serpihan kaca dan ada juga yang dipukul (secara tidak sengaja) dengan kayu.
Setelah berpuas diri menghancurkan, merasa tidak menemukan yang dicari, barulah mereka berhenti, meminta maaf kepada kami dan berniat membereskan apa yang mereka lakukan tadi,dengan mudah berkata khilaf, yang mereka sendiri entah sadar entah tidak,ketika bisikan syaitan dituruti maka hanya kerugian lah yang di dapat.
Spontan adik leting saya dalam keadaan menahan tangis berteriak, “pergi kalian! Beraninya Cuma sama perempuan!”, dan langsung menutup pintu. Ketika kami melihat keadaan diluar, terkejut hati melihat sekitar ratusan orang telah berkumpul,rata-rata memegang balok. Spontan kami menghubungi kawan-kawan lain, terutama pengurus cowok.
Harapan kami dapat mencegah mereka datang ke pema, karena pikir kami pun, lawan tidak lah seimbang, kami anak pema hanyalah sekitar 30an orang, sedangkan mereka ratusan orang. Belum lagi pertimbangan melawan atau menahan diri.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari daerah gedung AAC Dayan Dawood ada sekitar 30 orang berlari terburu-buru dan penuh emosi menuju depan pagar gelanggang, beberapa orang merusak pelindung pohon yang sedang tumbuh disitu, menghancurkannya menjadi kayu sepanjang lengan orang dewasa, dan berjalan mengikuti kawannya ke arah fakultas teknik. Ketika itu, gerombolan yang tadi berkumpul didepan kantor pema tidak tahu lagi kemana, saya tidak sempat melihat mereka. Dan saat itu, saya menggunakan kesempatan mengajak beberapa teman yang ada disamping untuk segera pergi dari tempat ini saat itu juga.
Namun apa hendak dikata, sedetik kemudian, dengan sangat tiba-tiba, gerombolan yang tadi,bukan 60an orang, bukan juga 30an orang, tapi lebih banyak dari itu, berlari dengan cepat, langsung berbelok ke arah kantor pema. Spontan kami perempuan yang tenyata saya tau bukan hanya 7 tapi 12 orang , berlari ke pema, masing-masing dari kami berteriak, “ cepat masuk ke pema!”.
Saya yang posisinya saat itu di pintu sempat melihat bagaimana teman-teman perempuan saya berusaha menyelamatkan diri dari tsunami yang berwujud manusia itu. Ketika pintu akan ditutup, apalah arti kekuatan kaum hawa dibanding kaum adam yang seyogyanya dipercaya memimpin malah berbuat yang tidak selayaknya sebagai pemimpin. Mereka masuk menghancurkan apa yang telah hancur, lebih membabi buta, menghancurkan piala-piala, menghancurkan pintu kaca, jendela, meja, komputer juga jadi sasaran. Kami, perempuan-perempuan yang menyaksikannya, hanya melihatnya dengan miris, ada juga yang menangis.
Terkoordinir dengan rapi. Andai mereka lahir di hongkong, mungkin akan menjadi mafia yang top markotop. Saya tidak tahu bagaimana nasib teman-teman saya yang tadi berusaha menahan pintu, saya tidak tahu bagaimana nasib teman-teman saya yang tidak sempat masuk ke pema. Terpaku, terdiam, tidak bisa bergerak, hanya bisa beristigfar melihat tingkah mereka menghancurkan yang telah hancur. Beberapa saat kemudian, ruangan itu hening, merasa sudah aman, saya keluar dari ruang perempuan, saya lihat ternyata teman-teman saya yang lain juga bernasib sama. Diam terpaku di tempatnya masing-masing. Beberapa diantara mereka akhirnya menangis. Kemudian, kami meninggalkan pema untuk menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi. Wallahu’alam.